Tuesday, January 25, 2011

Agama dan Science

Konsep ke-Tuhan-an dan evolusi kehidupan terus diperdebatkan. Entah juga dari zaman kapan.. yang jelas sejak sebelum aku lahir, dua hal itu telah sibuk dipertentangkan manusia-manusia pendahuluku.

Pernah sekali aku, Tante, dan Om-ku sempat terlibat dalam pembicaraan mengenai hal itu. Lupa juga sih, gimana ceritanya tau2 ujug2 nyampe ngomongin soal itu. Hehe...
Pokoknya yang aku ingat, Tante-ku sempet bilang, "Yah itu..., kisah penciptaan manusia tertuang di kitab suci ketika Adam dan Hawa (Eva) diciptakan oleh Tuhan."
Disambung celetukku, "Tapi kan kalo menurut science, manusia dan semua bentuk kehidupan itu terjadi dari hasil evolusi. Buktinya juga uda banyak banget.."
"Nah di situlah pentingnya iman." tandas Om-ku singkat dan lugas.

Sampai sekarang jawaban bijak itu terus terpatri dalam benakku. Dan kadang ingin juga aku ungkapkan pada temanku yang mulai beralih pandang menjadi atheis akibat makin akrabnya ia mengenal science.

Belakangan aku sempat terpikir, entahlah... aku pernah dengar kata Tante-ku "Tuhan itu sangat pintar, jauh melebihi manusia." Ya iyalah ya? Kan Beliau itu yang dengan cerdasnya menciptakan kita semua, bumi dan segala isinya, dan mungkin juga beserta luar angkasa-nya, planet-planet lain plus komet, meteor, juga black hole.

Jadi, dengan sebegitu cerdasnya Tuhan, bisa jadi Beliau memang "mengatur" adanya dua konsep yang bertentangan itu: yang satu konsep dari kitab suci dan yang lain bukti-bukti ilmiah dari science. Kalo kita gambarin dengan kotak, mungkin gambarnya seperti gambar di bawah.

Ada 4 kotak. 
Kotak pertama, orang-orang di dalam kotak ini mengakui adanya Tuhan dan ajaran agama, termasuk di dalamnya kitab suci, tetapi pun tidak menutup diri terhadap science. Mungkin agak sulit untuk dibayangkan, tetapi ada koq orang-orang seperti ini. Contohnya: salah satu seniorku, Om-ku, aku, dan pasti masih banyak orang di dunia ini. Orang-orang di kotak ini kadang tidak merasa perlu menyejajarkan agama dan science, serta menganggap bahwa kedua hal itu perlu diperdebatkan. 

Kotak kedua, orang-orang di dalam kotak ini cenderung lebih mempercayai science dibanding agama dan Tuhan. Mungkin kebanyakan dari mereka adalah scientists: biologists, paleonthologists, etc. Orang-orang yang lebih menerima perkembangan ilmu pengetahuan daripada kitab suci yang hasil penulisan turun-temurun dari zaman dahulu kala. Mereka hanya bisa menerima salah satu paham, dan ketika mereka memilih untuk lebih percaya pada bukti otentik yang ilmiah dan ragu pada keberadaan Tuhan, mereka mulai disebut sebagai atheis.

Kotak ketiga, orang-orang di kotak ini sangat memeluk erat keyakinannya kepada Tuhan dan kitab suci sehingga menentang semua konsep yang bertentangan dengan apa yang diyakininya. Salah satu orang yang termasuk dalam kotak ini adalah Harun Yahya, dan masih banyak lagi (saya ga tau namanya satu-satu...hehe).

Kotak keempat, orang-orang dalam kotak keempat ini mungkin sebenarnya posisinya kurang jelas. Jadi sebenarnya mungkin mereka tidak mutlak tidak beragama dan tidak menerima science. Yang terpikir oleh aku sih, orang-orang yang kurang mendapat pendidikan seperti para pengemis, gelandangan, dan lain-lain. Jadi, bisa karena kurangnya informasi, mereka tidak terlalu ambil pusing dengan perdebatan yang ada. Asalkan mereka bisa hidup dengan damai dan aman, mereka cukup bahagia. Sebagai tambahan, mereka mungkin juga beribadah.

Jadi, kembali ke laptop, adanya konsep yang bertentangan itu bisa jadi adalah semacam ujian dari Tuhan. Apakah kita bisa menerima itu atau tidak. Apakah kita tetap memilih untuk beriman kepada-Nya atau tidak. Tuhan mungkin sengaja membingungkan kita untuk melihat keimanan kita kepada-Nya. Ketika kita dihadapkan pada fakta-fakta yang begitu bertentangan dengan apa yang dikatakan dalam kitab suci, kita diharapkan untuk tetap memilih untuk percaya kepada-Nya. Mungkin ibarat dua orang sahabat, ketika ada orang ketiga yang mencoba mengacaukan persahabatan itu, sahabat yang satu berharap sepenuhnya pada sahabatnya untuk percaya kepadanya sepenuhnya walau ada fitnah yang meragukan dirinya.

Anyway, terserah kepada diri kita masing-masing, mau masuk di kotak yang mana. Toh, orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan juga bukan berarti orang jahat loh... Ini hanya masalah pandangan, kepercayaan, dan iman. =)

Have a blessed day all...!